Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Oktober 2009

Kekuatan Sebuah Keinginan



Suatu hari Socrates (469-399 BC), sang philosof, didatangi seorang pemuda yang bertanya tentang bagaimana mencapai kebijaksanaan. Oleh Socrates pemuda itu dibawa ke tepi sungai lalu dibenamkannya kepala pemuda itu kedalam air sampai pemuda itu meronta-ronta karena hampir kehabisan nafas. Setelah si pemuda berhasil mengangkat kepalanya dari air dan menenangkan diri, Socrates bertanya kepadanya, apa yang kamu inginkan ketika hampir kehabisan nafas ? pemuda itu menjawab tentu saja ia sangat menginginkan udara (oksigen maksudnya). Socrates melanjutkan, jika keinginanmu untuk mencapai kebijaksanaan sama kuatnya dengan keinginanmu untuk mendapatkan udara ketika hampir kehabisan nafas dalam air, maka kamu pasti akan mendapatkan kebijaksanaan itu.



Apa yang terkandung dalam kisah Socrates diatas ? menurut saya Socrates menyampaikan betapa pentingnya kekuatan keinginan (The Power of Will) kalau kita ingin mencapai sesuatu. Bukan sesuatu yang berlebihan jika kita katakan, apa yang kita dapatkan berbanding lurus dengan keinginan kita mendapatkannya.

Dalam analisanya mengenai motivasi manusia, Anthony Robbin mengatakan, hanya ada dua yang sebenarnya mendorong setiap tindakan manusia, yakni, mengejar kebahagiaan dan menghindari penderitaan. Sejauh mana kita sungguh-sungguh ingin mendapatkan kebahagiaan atau sejauh mana kita sungguh-sungguh ingin menghindari penderitaan, sekuat itu pulalah keinginan atau will yang kita miliki, dan sejauh itu pula pencapaian yang akan kita dapatkan.

Jadi, kalau kita mengevaluasi hidup dan pencapaian yang telah kita raih sejauh ini, semuanya menunjukkan dengan jelas itulah tingkat will atau keinginan yang berhasil kita kembangkan dalam diri kita selama ini. Kalau kita merasa hidup kita mandek dan tidak bergerak kemana-mana, itulah level atau tingkat will yang ada dalam diri kita, juga mandek dan tidak kemana-mana. Sampai kita berhasil menginginkan sesuatu SAMA KUATNYA seperti kita menginginkan oksigen ketika kita kehabisan nafas, baru pada saat itulah kita mungkin mendapatkan apa yang kita inginkan.

Jadi, kalau ingin mendapatkan sesuatu dalam hidup ini, cobalah tanya diri anda sendiri : Benarkah Anda sungguh-sungguh ingin mendapatkan hal itu ? Apakah Anda “meronta-ronta” untuk mendapatkannya ? Bahkan, apakah anda bersedia dan rela mati untuk mendapatkannya ? Kalau Anda dengan yakin menjawab 100% “YA”, bersabarlah sebentar, Anda pasti mendapatkannya. Namun kalau Anda menjawab “tidak” atau “ragu-ragu”, Anda pun harus bersabar, karena besar kemungkinan Anda tidak pernah mendapatkan apa yang anda inginkan tersebut.

Sampai Anda mampu merubah tingkat “will” Anda, barulah perubahan terjadi dalam hidup Anda. Percayalah :

Sukses sangat ditentukan oleh kuatnya kemauan dari dalam diri sendiri untuk belajar dan bekerja keras, dan meningkatkan kualitas diri. Tantangan atau kendala apapun berusaha diatasi dengan memberikan yang terbaik dan menjalani dengan sungguh-sungguh. "Kekuatan seseorang bukan datang dari kapasitas fisiknya, tetapi dari kemauan yang sungguh-sungguh,"tegas Mahatma Gandhi.



“Tuhan tidak akan merubah nasib seseorang, sampai orang itu merubah nasibnya terlebih dahulu”

Sudahkan teman-teman berkeinginan hari ini lebih baik dari kemarin ?


yoyosuryo.wordpress.com

Senin, 26 Oktober 2009

Cinta dan Perkawinan Menurut Plato

Plato

Satu hari, Plato bertanya pada gurunya, "Apa itu cinta? Bagaimana saya bisa menemukannya?


Gurunya menjawab, "Ada ladang gandum yang luas didepan sana. Berjalanlah kamu dan tanpa boleh mundur kembali, kemudian ambillah satu saja ranting. Jika kamu menemukan ranting yang kamu anggap paling menakjubkan, artinya kamu telah menemukan cinta". Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan tangan kosong, tanpa membawa apapun.


Gurunya bertanya, "Mengapa kamu tidak membawa satupun ranting?"


Plato menjawab, "Aku hanya boleh membawa satu saja, dan saat berjalan tidak boleh mundur kembali (berbalik)"


"Sebenarnya aku telah menemukan yang paling menakjubkan, tapi aku tak tahu apakah ada yang lebih menakjubkan lagi di depan sana, jadi tak kuambil ranting tersebut. Saat kumelanjutkan berjalan lebih jauh lagi, baru kusadari bahwasanya ranting-ranting yang kutemukan kemudian tak sebagus ranting yang tadi, jadi tak kuambil sebatangpun pada akhirnya", lanjutnya.


Gurunya kemudian menjawab " Jadi ya itulah cinta"


Di hari yang lain, Plato bertanya lagi pada gurunya, "Apa itu perkawinan? Bagaimana saya bisa menemukannya?"


Gurunya pun menjawab "Ada hutan yang subur didepan sana. Berjalanlah tanpa boleh mundur kembali (menoleh) dan kamu hanya boleh menebang satu pohon saja. Dan tebanglah jika kamu menemukan pohon yang paling tinggi, karena artinya kamu telah menemukan apa itu perkawinan"


Plato pun berjalan, dan tidak seberapa lama, dia kembali dengan membawa pohon. Pohon tersebut bukanlah pohon yang segar / subur, dan tidak juga terlalu tinggi. Pohon itu biasa-biasa saja.


Gurunya bertanya, "Mengapa kamu memotong pohon yang seperti itu?"


Plato pun menjawab, "sebab berdasarkan pengalamanku sebelumnya, setelah menjelajah hampir setengah hutan, ternyata aku kembali dengan tangan kosong. Jadi dikesempatan ini, aku lihat pohon ini, dan kurasa tidaklah buruk-buruk amat, jadi kuputuskan untuk menebangnya dan membawanya kesini. Aku tidak mau menghilangkan kesempatan untuk mendapatkannya"


Gurunyapun kemudian menjawab, "Dan ya itulah perkawinan"


Renungan :


Cinta itu semakin dicari, maka semakin tidak ditemukan. Cinta adanya di dalam lubuk hati, ketika dapat menahan keinginan dan harapan yang lebih. Ketika pengharapan dan keinginan yang berlebih akan cinta, maka yang didapat adalah kehampaan... tiada sesuatupun yang didapat, dan tidak dapat dimundurkan kembali. Waktu dan masa tidak dapat diputar mundur. Terimalah cinta apa adanya.


Perkawinan adalah kelanjutan dari Cinta. Adalah proses mendapatkan kesempatan, ketika kamu mencari yang terbaik diantara pilihan yang ada, maka akan mengurangi kesempatan untuk mendapatkannya, Ketika kesempurnaan ingin kau dapatkan, maka sia2lah waktumu dalam mendapatkan perkawinan itu, karena, sebenarnya kesempurnaan itu hampa adanya.

Minggu, 25 Oktober 2009

Kritik Einstein Atas Teologi Ketuhanan Plato


Sejak zaman Yunani Kuno, peradaban umat manusia telah mulai menemukan identitasnya. Proyek pencarian akan eksistensi Tuhan telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perbincangan sehari-hari para ahli filsafat di negeri para dewa itu.

Pada awalnya orang Yunani Kuno secara mitodologi mengenal banyak dewa yang diyakini sebagai Tuhan yang mengatur alam semesta. Namun, bersamaan dengan semakin berkembangnya alam berpikir orang Yunani Kuno, mitos-mitos para dewa yang menjadi sebuah doktrin warisan turun temurun, mulai runtuh dan tergantikan oleh doktrin yang lebih rasional-empiris. Doktrin inilah yang diusung oleh para ahli filsafat di Yunani.

Buku "Einstein Mencari Tuhan" yang ditulis Winus Arya Wardhana mengungkap kembali persoalan filsafat yang disinggung oleh para ahli filsafat Yunani Kuno, di antaranya adalah Plato. Persoalan filsafat inilah yang kemudian juga menarik perhatian sosok manusia jenius di abad 20, yakni Albert Einstein.

Kedua sosok manusia ini adalah mereka yang dipercaya memiliki peran sangat penting dalam perjalanan sejarah umat manusia. Tak pelak, penulis menganggap perlu untuk membahas secara khusus kedua tokoh tersebut di dalam salah satu bab bukunya ini. Anggapan bahwa kedua tokoh ini (Plato dan Einstein), penting dikarenakan dari keduanya memang telah banyak lahir teori-teori baru yang turut membawa arus perubahan dalam peradaban manusia.

Adalah Plato, seorang filosof dari Athena di zaman Yunani Kuno, mulai mengenalkan alam berpikir baru tentang realitas kebenaran abadi. Bagi Plato, di alam semesta ini terdapat sesuatu yang kekal dan abadi. Dengan demikian, eksistensi para dewa dipertanyakan kembali.

Apakah para dewa memiliki kekekalan dan keabadian sebagaimana yang dimaksud oleh Plato?. Untuk menjawab pertanyaan ini, Plato juga tidak dapat menggambarkan secara spesifik. Namun, ketika ia mulai mengalihkan perbincangan terkait dengan para dewa dengan menyebut entitas baru, yakni Tuhan.

Ia menggambarkan sosok Tuhan sebagai sosok yang niscaya tetap memiliki kekuatan untuk melakukan segala sesuatu. Dengan keadaan niscaya, Tuhan tidak dapat berbuat apapun selain dari yang ia lakukan.

Penjelasan tentang sosok Tuhan di atas yang masih rancu, terkesan amat sulit untuk dipahami oleh siapapun. Tentunya penjelasan Plato telah memantik reaksi yang beragam dari berbagai kalangan, tak terkecuali oleh Albert Einstein.

Dalam konteks inilah, Einstein, seorang pemikir, seorang ahli fisika, ahli matematika dan ahli astronomi mengkritisi pemikiran Plato. Bagaimanapun, secara implisit Plato telah dianggap membatasi kekekalan dan keabadian Tuhan dengan membatasi perbuatan-Nya.

Apalagi ketika Plato memiliki pemikiran bahwa bumi, matahari, bulan dan bintang tidak akan berubah, akan tetap seperti keadaan semula. Dengan kata lain, semua itu dianggap oleh Plato memiliki "keabadian". Tak ayal, sebagai seorang ahli dalam bidang astronomi, fisika dan matematika, Einstein menolak secara tegas pemikiran-pemikiran yang demikian.

Menurutnya, berdasarkan pengamatannya terhadap alam semesta, utamanya terhadap bintang-bintang di angkasa raya ini, semuanya mengalami perubahan, tidak ada yang kekal dan abadi. Langit mengalami pengembangan, bintang yang semula bersinar seperti matahari, pada suatu saat akan padam (hal 56-57).

Dari penjelasan di atas, penemuan-penemuan Einstein jelas bertentangan dengan teori Plato yang mengatakan bahwa alam semesta itu kekal dan abadi. Adapun teori Plato tentang entitas Tuhan, Einstein juga tidak dapat menerimanya, bahkan ia terkesan menentang teori itu. Bagi Einstein, pendapat Plato seringkali tidak sesuai dengan logika dan jalan pemikirannya.

Oleh karenanya, ketika Einstein tidak menemukan kebenaran pada filsafat Plato, ia mulai mencari jawabannya lewat penelitian dalam bidang sains. Di dunia sains inilah Einstein percaya bahwa kebenaran abadi akan terbuktikan secara ilmiah.

Einstein sebagai seorang ahli fisika dan matematik, memang selalu berpikir secara rasional terhadap segala masalah yang dihadapinya, termasuk masalah filsafat. Namun, persoalan yang masih belum dapat ditemukan jawabannya, adalah masalah terkait dengan sosok Tuhan.

Ketika menggambarkan sosok Tuhan, Einstein juga menemukan kesulitan yang sama sebagaimana dihadapi Plato. Tuhan memang tidak mungkin untuk dibuktikan secara kongkrit. Mengutip pendapat Karen Armstrong dalam bukunya "Sejarah Tuhan", pada mulanya manusia menciptakan satu Tuhan yang merupakan Penyebab Pertama bagi segala sesuatu dan Penguasa langit dan bumi dan Dia tidak terwakili oleh gambaran apapun.

Dalam konteks inilah, jelas bagi kita bahwa Tuhan memang tidak mungkin digambarkan secara nyata. Oleh karenanya, tak salah jika Einstein pernah melontarkan kata-kata "Kini aku tahu, Tuhan berada di Surga". (hal 41). Sementara Plato, ia tetaplah seorang filofof yang pola berpikirnya tidak mungkin terlepas dari mitos-mitos yang ada di masyarakat Yunani Kuno.

Pola berfikir yang berbeda di atas, baik berpikir ala Plato maupun Einstein, setidaknya dapat dipergunakan sebagai alat pembanding dalam mitodologi berpikir filsafat. Sebab bagaimanapun, Plato dan Einstein memiliki model berpikir filsafat yang relevan dengan konteks zaman dan bidang kajian keilmuan yang mereka tekuni masing-masing.

Dengan demikian, berfikir dan berfilsafat ala Plato dan Einstein tetaplah menarik untuk dikaji dan diperbincangkan sebagai sebuah landasan berfikir sebelum kita mengenal alam berpikir para filosof lainnya.

Sumber : Jurnalnet.com

tenang disaat sulit

Saat Confusius berkelana melewati banyak daerah di Tiongkok, dia kehabisan bekal di daerah Chen dan Chai. Menghadapi kesulitan itu, ia tetap memainkan musik dan mengkomposisi nada dan bernyanyi.

Muridnya Zi Lu berkata, "Mengapa Anda masih bernyanyi dalam kesulitan ini?" Confusius tidak menjawabnya sampai ia menyelesaikan lagunya. Dia kemudian berkata, "Zi Lu, dalam kondisi ini, orang yang mulia memainkan musik untuk mengeliminasi keangkuhannya, dan orang yang jahat memainkan musik untuk mengeliminasti rasa takutnya. Apakah kamu mengikuti saya tanpa sungguh-sungguh mengetahui saya? Confusius memberikan dia perisai dan memintanya menari menggunakan perisai itu. Setelah menari sebanyak dua kali, Zi Lu menjadi tenang.

Muridnya yang lain, Zi Gong berkata, "Kultivasi Anda sudah mencapai tingkat yang sangat tinggi, itulah mengapa orang biasa tidak mudah memahaminya. Bisakah Anda menurunkan kriteria sedikit?" Confusius berkata, "Zi Gong, seorang petani yang baik sangat pandai bercocok tanam, tapi ini bukanlah jaminan bahwa ia dapat memperoleh panen yang memuaskan. Seorang perajin dapat melakukan pekerjaan yang hebat, tapi ini juga bukan jaminan bahwa semua orang suka dengan hasil karyanya. Orang yang mulia melakukan kultivasi yang lurus dan berharap semua orang bisa mengikuti jalannya dan prinsip-prinsip tingkat tinggi, dapatkah ia menurunkan standar hanya untuk menyenangkan manusia dunia? Bila Anda menyerah dalam jalan ini dan hanya berpikir bagaimana supaya dapat diterima setiap orang, ini dikarenakan tujuanmu tidak tinggi."

Yan Hui berkata, "Kultivasi Anda sudah mencapai tingkat yang sangat tinggi, itulah mengapa orang biasa tidak mudah memahaminya. Walaupun demikian, Anda masih berusaha sebaik mungkin untuk memperkenalkan jalur lurus dan menyelamatkan orang dengan welas kasih. Meskipun Anda menghadapi banyak kesulitan dan banyak orang sulit menerima Anda karena rasa iri hatinya, namun hal itu tidak mempengaruhi Anda. Justru ini tepat adalah pertanda bahwa jalan yang Anda tempuh adalah berharga. Hanya orang yang mulia yang dapat tidak tergerak hatinya dalam situasi apapun. Alangkah sayangnya orang yang tidak meneruskan kultivasi ini. Adalah kesalahannya sendiri apabila kita sudah memberitahu orang-orang tentang jalan ini dan mereka tidak bisa menerimanya. Confusius menyetujuinya dan berkata, "Sungguh tepat anda mempunyai pemikiran itu."

Pada saat itu, angin sepoi-sepoi menyebarkan wangi bunga. Confusius mengikuti wangi bunga tersebut dan menemukan taman anggrek biru di lembah tersembunyi. Mereka sangat cantik dan elegan. Mereka tumbuh tanpa diketahui siapapun, tapi wangi mereka menyebar jauh. Confusius berkata pada murid-muridnya, "Anggrek biru hidup di lembah tersembunyi. Mereka tidak berhenti berbunga dan menyebarkan keharumannya meskipun tidak ada yang mengetahui. Mereka tidak mengubah kriterianya dalam situasi apapun. Mereka lurus, kuat dan murni. Mereka sungguh mulia!" Lalu Confusius menuangkannya dalam tulisan, "Menyanjung Anggrek" dan mengkomposisi sebuah nada. Murid-muridnya semua terinsiprasi olehnya.

Confusius melanjutkan, "Prinsip dari menghadapi kesengsaraan adalah seperti sebuah proses menghadapi musim dingin yang berat untuk menyongsong musim semi yang hangat. Hanya orang dengan kebaikan hati yang dapat memahaminya. Yang lain tidak bisa memahaminya." Zi Gong berkata, "Mengapa beberapa orang tidak dapat memahaminya?" Confusius berkata, "Orang yang tidak memiliki tujuan adalah berpandangan pendek. Mereka tidak dapat mempercayai apapun yang tidak bisa dilihat oleh mata. Namun, orang yang memiliki tujuan mulia dan kebaikan hati tidak akan tergerak oleh lingkungan mereka karena mereka punya prinsip di dalam hati mereka. Oleh karenanya, mereka berpandangan jauh ke depan dan bijaksana. Seringkali mereka melatih kesabaran dalam menghadapi kesengsaraan, yang mana menjadikan kesengsaraan itu bermanfaat untuk melatih mereka." Murid-muridnya semua merasa dibesarkan hatinya oleh Sang Guru, dan hari berikutnya masalah mereka terselesaikan.

Confusius secara terus menerus mengikuti prinsip tingkat tinggi sepanjang hidupnya. Dia menyebarkan "Mengikuti prinsip surga dan jalan lurus serta belas kasih, " "Usahakan yang terbaik dan mengikuti perintah Tuhan". Seorang yang bijaksana memiliki kebulatan tekad dan percaya penuh dengan apa yang dilakukannya. Orang yang mulia memiliki tujuan mulia dan berani menjaga kebenaran, mengambil tanggung jawab sosial dan memiliki misi, mereka dapat menyadarkan orang banyak dengan belas kasih mereka.

Sumber: www.harimau-besi.com

Sabtu, 24 Oktober 2009

Pelajaran Dari Socrates

Bagi para pendukung kesebelasan Yunani tidak usah bersedih. Kesebelasan yang dua tahun lalu menjadi juara piala Eropa, kini di Euro 2008 kesebelasan ini kandas dari Swedia (2-0) dan Rusia (1-0). Walau kesebelasan Yunan kalah tampaknya kita masih bisa belajar dari bangsa Yunani. Di zaman Yunani kuno, Socrates adalah seorang terpelajar dan intelektual yang terkenal reputasinya karena pengetahuan dan kebijaksanannya yang tinggi.

Suatu hari seorang pria berjumpa dengan Socrates dan berkata, “Tahukah anda apa yang baru saja saya dengar mengenai salah seorang teman anda?”. "Tunggu sebentar”, jawab Socrates. “Sebelum memberitahukan saya sesuatu, saya ingin anda melewati sebuah ujian kecil. Ujian tersebut dinamakan Ujian Saringan Tiga Kali.” “Saringan tiga kali?”, tanya pria tersebut. “Betul”, lanjut Socrates.

“Sebelum anda mengatakan kepada saya mengenai teman saya, mungkin merupakan ide yang bagus untuk menyediakan waktu sejenak dan menyaring apa yang akan anda katakan. Itulah kenapa saya sebut sebagai Ujian Saringan Tiga Kali."

"Saringan yang pertama adalah KEBENARAN. Sudah pastikah anda bahwa apa yang anda akan katakan kepada saya adalah benar?”.

“Tidak”, kata pria tersebut. ”sesungguhnya saya baru saja mendengarnya dan ingin memberitahukannya kepada anda”.

“Baiklah”, kata Socrates. ” Jadi anda sungguh tidak tahu apakah hal itu benar atau tidak.”

"Sekarang mari kita coba saringan kedua yaitu KEBAIKAN. Apakah yang akan anda katakan kepada saya mengenai teman saya adalah sesuatu yang baik?”. “Tidak, sebaliknya, mengenai hal yang buruk”.

“Jadi..”, lanjut Socrates, “anda ingin mengatakan kepada saya sesuatu yang buruk mengenai dia, tetapi anda tidak yakin kalau itu benar.

"Anda mungkin masih bisa lulus ujian selanjutnya, yaitu KEGUNAAN. Apakah apa yang anda ingin beritahukan kepada saya tentang teman saya tersebut akan berguna buat saya?”. “Tidak, sungguh tidak,” jawab pria tersebut. “Kalau begitu”, simpul Socrates, ”jika apa yang anda ingin beritahukan kepada saya… tidak benar, tidak juga baik, bahkan tidak berguna untuk saya, kenapa ingin menceritakan kepada saya?”

Sebuah panah yang telah melesat dari busurnya dan membunuh jiwa yang tak bersalah, dan kata-kata yang telah diucapkan yang menyakiti hati seseorang, keduanya tidak pernah bisa ditarik kembali. Jadi sebelum berbicara, gunakanlah Saringan Tiga Kali..